...jelas kiranya bahwa klaim dari para pengamat dan peneliti yang menilai kejawen merupakan sinkritisme antara Islam dengan nilai-nilai lama yang terdapat di jawa, perlu sejenak direnungkan dan dikoreksi. Sebab, dalam sejarahnya, orang Jawa tidak pernah melakukan upaya sinkritisasi.Orang Jawa hanya melakukan "pembukaan diri". Terbuka menyilahkan nilai dan ajaran dari mana pun datangnya ke Jawa, dan menerimanya (dalam arti menggunakannya) manakala dinilai berguna, bermanfaat bagi diri pribadi dan masyarakatnya.
Sekali lagi, Jawa bukan sebuah pabrik yang sengaja mencampur berbagai macam agama dan kepercayaan, kemudia memformulasikan, serta memprosesnya untuk menghasilkan suatu produk baru. Spiritualisme Jawa benar-benar ibarat telega seperti yang disanepakan para leluhur. Ia tidak memanggil ikan, lumut, maupun ganggang, hidup dalam habitatnya. Ia tidak menetapkan undang-undang patembayatan bagi setiap materi dan fenomena yang berasal dari mana pun juga. Maka, telaga itu pun tidak dapat diklaim sebagai milik ikan, milik ganggang, milik cacing, melainkan milik semua yang tinggal dan tumbuh berkembang di dalamnya.
Demikian pula halnya dengan dunia Spiritualisme Jawa, atau kejawen. Ia harus dipahami sebagai media yang sangat terbuka dan tulus menerima berbagai nilai, sehingga nilai-nilai tadi benar-benar menjadi kulit daging orang Jawa.
Spiritualisme Jawa: Sejarah, Laku, dan Intisari Ajaran
ISBN: 6029715895
ISBN 13: 9786029715897
Publication Date: September, 2012
Publisher: Memayu Publishing
Pages: 264
Format: Paperback
Author: Iman Budhi Santosa