Berabad-abad, orang Jawa dihadang bermacam hal yang dapat merusak ketenangan dan kesejahteraan hidupnya. Padahal, mereka tidak boleh kalah dan menyerah. Harus tabah, sabar, dan mampu bangkit kembali sewaktu-waktu, karena memang di sanalah sawah-ladangnya untuk mencari rezeki.
Ibarat luka, masalah fisik dapat disembuhkan dengan berbagai sarana. Namun, untuk mengobati luka batin, untuk memperoleh kembali ketenangan diri, orang Jawa akan mencari solusi menurut pertimbangan dan pilihan masing-masing. Salah satu solusi tersebut adalah: merokok.
Merokok, bagi orang Jawa, tak bedanya rutinitas menikmati suara burung perkutut, minum teh nasgithel dengan gula batu, nglaras uyon-uyon, atau memancing di sungai malam-malam. Ya, semua itu adalah upaya menghibur diri, membahagiakan hati, mengendorkan ketegangan hidup, yang telah menjadi adata tradisi orang jawa selama ini.
Artinya, bisa jadi, hanya dengan rokok murahan, rokok tingwe, atau puntung sekali pun, wong cilik di Jawa dapat terus berdiri dan mandiri, melupakan sejenak beban hidup yang tak mungkin lagi digambarkan dengan kata dan bahasa. Dari situ pula, mereka mampu terus bertahan, dan membangun sejarah di tanah kelahirannya…