"kuhanya mahu tenang
jadi laut, yang lupa
pada hening di dadanya,
ketika ia mengirim
lengan ombak memeluk
kaki orang asing
yang kehilangan senja."
Sajak-sajaknya menyikapi kesunyian
sebagai bagian dari dinamika hidup.
Yuki sampai pada pemahaman
mengenai nilai atau arti sejati puisi;
lebih dari sekadar kerja bahasa,
sebentuk upaya mental untuk
menumbuhkan spirit keikhlasan.
Menjadi sarana rekreasi, semacam
terapi, dalam rangka berdamai
dengan diri sendiri.
- Joko Pinurbo, Penyair